Perkembangan zaman bikin posisi wanita bergeser dari sebelumnya. Para kaum wanita bukan lagi mereka yg "hanya" diam dirumah untuk mengurus anak, mencuci dan menyetrika, merapikan rumah, dan sejenisnya. Saat ini para kaum wanita sudah bersaing dengan kaum lelaki dalam mencari nafkah, bahkan di pemerintahan pun mereka punya "suara"nya sendiri. Membanggakan? Tentu. Mereka saat ini bukan lagi "kaum lemah" yang hanya pantas dipandang sebelah mata.
Tentu saja, hal diatas membuat dada saya terasa sesak, bergetar seolah ingin katakan bahwa "kami juga pantas dihargai, dihormati, dan didengarkan". Bahwa setiap prestasi diluar sana hadir juga karena keringat kami.
Ibu Rumah Tangga,
Setahun lalu, saya adalah salah satu dari ibu rumah tangga di dunia ini. Ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya "hanya" untuk keluarga, untuk anak dan suami. Saya bertanggung jawab pada anak, kebersihan rumah, menu di meja makan (baca:dapur;karena belum punya meja makan. hehe), dan seperangkat hal-hal lain yang ada dirumah. Mulai dari membuka sampai menutup mata, semua yang saya kerjakan adalah pekerjaan ibu rumah tangga sejati.
Bangga? Tentu saja. Tak banyak wanita zaman sekarang yang mau melepas gelar sarjana mereka "hanya" untuk menjadi ibu rumah tangga.
Lelah? Pasti. Saya bahkan jarang tidur siang, jarang sekali punya "me time" seperti ke salon, hunting di toko buku, nangkring makan sama temen-temen, nonton bioskop sama suami, atau sekedar nonton drama korea kesukaan. "Ngapain aja sih?" Ya itu tadi, ngurusin rumah sampai lelah bahkan sudah jadi teman berbagi.
Bosan? Iya. Introvert. Saya memang bukan kepribadian yang suka keramaian, bukan juga anak muda gaul yang punya temen nongkrong dimana-mana. Tapi saya juga bukan anak rumahan cupu yang ga pernah keluar rumah dan takut atau minder saat ketemu orang. Biasa saja. Saya dari kecil biasa saja, anak perempuan yang dibesarkan oleh ibu rumah tangga dan ayah PNS, anak keenam dari tujuh bersaudara. Bukan anak dengan puluhan piala terpajang dirumah. Saya cenderung lebih suka mendengar daripada bercerita, lebih suka memberi daripada menerima, lebih bangga saat saya punya keluarga bahagia daripada harta melimpah. Meski begitu, aktifitas rumah setelah sebelumnya berlabel "wanita karir" tentu bukan hal yang mudah dijalani.
Saya hanya ingin katakan, bahwa menjadi ibu rumah tangga itu tidak mudah, sungguh tidak mudah. Kami harus berjuang melawan rasa lelah, bosan, jenuh. Belum lagi ditambah melawan rasa kesal saat diremehkan oleh orang-orang, bahwa "menjadi ibu rumah tangga itu mudah, siapapun bisa jd ibu rumah tangga", "Sarjana kok jaga rumah, susah-susah orang tua nyekolahin","Mau-mau nya ga punya penghasilan, apa-apa mesti nunggu suami kasih uang","Kasihan banget kamu dirumah aja mbak",dll
Ya, saya memang ibu rumah tangga. Yang jauh dari kedua orang tua dan saudara. Saya sarjana yang memutuskan membesarkan anak dengan tangan saya sendiri. Tolong hargai itu sebagai prestasi, karena percayalah... ibu rumah tangga itu butuh dukungan Anda, siapapun Anda.
Wanita Karir,
Saat membuat tulisan ini, saya adalah wanita karir. Menulis menggunakan laptop kantor dan pada jam kerja, yang kebetulan sedang tidak ada kerjaan. hehe.. Lho, kok dikantor?? Ya.. 25 Juli 2017 saya mulai menjalani status baru, sebagai wanita karir. Dengan berbagai pertimbangan, setelah linangan airmata, setelah memohon izin pada suami, anak, dan orang tua. Percayalah, sekali lagi percayalah, bagi sebagian ibu yang memutuskan untuk bekerja, ini BUKANlah hal yang MUDAH. BUKAN HAL YANG MUDAH.
Saya menerima tawaran dari kantor yang lama untuk kembali bekerja, dengan lokasi dekat dari rumah, dan saat anak udah mau berusia 2 tahun. Belum ikhlas untuk menolak, tapi juga berat untuk menerima. Tentu semuanya ada plus-minus nya. Ada konsekuensi yang harus dibayar. Oleh saya, dan oleh suami.
Bahkan di awal bekerja lagi, saya terus menangis, merasa bersalah pada anak yang ditinggalkan dirumah. Tapi saya harus tetap kuat, harus tetap bertahan, karena ini juga adalah usaha saya, usaha kami, untuk membahagiakan anak, untuk berbagi pada keluarga. Ini bukan keegoisan saya ingin menjadi wanita karir, tapi adalah usaha saya untuk keluarga. Sebisa mungkin saya tetap memasak, memandikan dan memberi makan anak sebelum ke kantor. Menjalankan peran yang memang menjadi tanggungjawab saya.
Apapun itu, hargailah keputusan mereka, sang ibu rumah tangga dan wanita karir. Karena sesungguhnya tak ada yang benar dan yang salah, yang benar adalah seberapa ikhlas mereka menjalankan peran mereka, bukan untuk diri mereka sendiri melainkan untuk anak dan suami.