"Carilah kesalahan pada dirimu sendiri, dan bukannya kepada orang lain; jangan membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain; jangan pula memuji muji diri sendiri di depan orang lain. Janganlah suka menjelek jelekan sifat sifat orang lain sehingga pada hari kiamat nanti anjing anjing neraka akan menjelek jelekkan kamu sehingga hancur berkeping keping” (HR. Bukhari)

Wednesday, August 29, 2012

Suatu hari dalam hidupku


Suatu hari dalam hidupku, aku bertemu dengannya.
Bukanlah sesuatu yang baru ketika ada keinginan untuk mengenal lebih jauh.
Tak ada yang terasa berbeda saat ada keinginan untuk menyapa lebih awal.
Namun bagaimana jika muncul kenyamanan saat bersamanya?
sedangkan sudah pasti ada semacam kegelisahan saat ia tak ada...
Terkadang kita lalai, memilah perasaan mana yang pantas dijaga.
Bukan karena kita sendiri tak yakin akan apa yang kita rasakan saat itu,
tapi lebih karena semuanya berubah seiring berjalannya waktu.
Waktu??
Tentu kita sudah cukup dewasa untuk tidak menyalahkan waktu.
Waktu tahu persis kemana dan bagaimana ia menempatkan dirinya.

Maka untuk ruang dan waktu yang seolah "menyetujui" setiap saatku bersamanya,terima kasih...
Suatu hari dalam hidupku, aku kecewa akan dirinya.
Bukanlah sesuatu yang baru saat ada keinginan untuk saling menjauh.
Namun bagaimana jika sudah tak ada lagi rindu bersarang di dadaku?
Tak mengerti bagaimana merangkuh perspektif pandangnya.
Terus bergulat dengan berbagai macam fikiran defensif yang memenuhi otakku.
Terus mempertahankan opini-opini kecil yang terasa makin berkuasa.
Memaksa pada sudut kondisi yang tak dapat ku hindari.
Bukan karena kembali tak yakin akan apa yang aku rasakan saat itu,
tapi lebih karena semuanya berubah seiring berjalannya waktu.
Waktu??
Tentu kita sudah semakin dewasa untuk tak kembali menyalahkan waktu.
Waktu tahu persis mengapa dan bagaimana ia menggunakan wewenangnya.

Maka untuk ruang dan waktu yang seolah "menghalangi" setiap saatku bersamanya,terima kasih...

Monday, August 27, 2012

Mereka yang Percaya pada Tuhannya


Tak ada sedikitpun alasan untuk membenci,
Karena akan selalu ada alasan untuk menyayangi.

Tak ada sedikitpun alasan untuk menjauh,

Karena akan selalu ada alasan untuk kembali.

Tak ada sedikitpun alasan untuk menyalahkan,

Karena akan selalu ada alasan untuk memaafkan.

Tak ada sedikitpun alasan untuk melepaskan,

Karena akan selalu ada alasan untuk mengikat.

Tak ada sedikitpun alasan untuk melemah,

Karena akan selalu ada alasan untuk menguatkan.

Tak ada sedikitpun alasan untuk kecewa,

Karena akan selalu ada alasan untuk merasa bangga.

Biarlah Tuhan memberikan berbagai warna dalam hidup,

membedakan antara satu dengan yang lainnya,
mengarahkan mereka pada jalannya,
dan pada akhirnya,
menunjukkan tempat dimana semuanya kembali...

Biarlah Tuhan membolak-balikan setiap perasaan,

menggetarkan rasa saling membutuhkan,
membangkitkan rasa ingin dimengerti,
hingga pada akhirnya,
menunjukkan kepada siapa kita akan bersandar...


Untuk mereka yang selalu percaya pada Tuhannya,

Jakarta, 27 Agustus 2012

Monday, August 13, 2012

Kemana sabar dan qana'ah ku??

Bulan Ramadhan, bulan penuh nikmah...
Bulan penuh pengampunan...
Bulan penuh berkah...
-------------------------------ooo--------------------------------
Bulan Ramadhan seringkali dijadikan sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat.
Waktu aktifitas sehari-hari yang sepakat untuk dikurangi, dengan harapan dapat menikmati suasana buka bersama orang-orang tersayang.

Disini, di salah satu restoran yang bisa dibilang cukup terkenal di Jakarta, sekumpulan anak muda  berkumpul untuk berbuka bersama.
Hadir disana 3 jam sebelum waktu berbuka, dianggap sebagai pengorbanan yang tidak kecil. Membuat mereka merasa berhak mendapatkan apa yang mereka inginkan disana.
Apa yang mereka inginkan?
Tentunya tempat, waktu, dan pelayanan yang "sempurna" dari pihak restoran.
Ya, itu memang hak mereka. Duduk, berbincang, tertawa, mengabadikan momen itu dengan mengambil beberapa foto atau bahkan membuat mini video, dan yang pasti menikmati hidangan berbuka puasa.
Ramainya pengunjung yang datang (bahkan lebih banyak lagi yang waiting list di luar), membuat pelayanan restoran berkurang.
Jumlah pelayan dan pengunjung yang datang seolah timpang.
Alhasil, suasana menjadi riuh dan tak senyaman hari-hari biasanya. Rasa lapar yang terasa membuat hampir semua orang tak sabar untuk segera menerima hidangan yang mereka pesan.
Salah 1 pengunjung bahkan berulang kali dengan nada tinggi mengingatkan pelayan akan pesanan mereka yang belum juga datang.
Semua ingin dilayani, menuntut "hak"nya.
Mungkin, aku juga salah satu dari mereka. Merasa diperlakukan tidak adil saat melihat meja lain telah mendapatkan hidangannya (padahal kami yang datang lebih awal).
Merasa pelayanan sangat tidak memuaskan.
Berpendapat bahwa "seharusnya" pihak restoran telah memikirkan cara alternatif untuk menghadapi kondisi seperti ini. Karena apa?
"Karena konsumen adalah raja..." *batinku...
Saat aku sudah merasa bahwa batas toleransi (yang aku buat sendiri) telah habis, maka sudah saatnya aku beranjak, dan menanyakan mengapa pesanan kami belum kunjung datang, sementara pengunjung di meja-meja sebelah tengah asik menyantap hidangan mereka.
Tapi, Allah mengingatkanku.. Allah mengingatkanku lewat seorang teman, yang berkata padaku," Mau kemana?"
"Nanya ke mas-nya kenapa ini minum aja belum datang juga", jawabku dengan nada agak kesal.
Lalu ia kembali bertanya, "Apa dari tadi kamu pernah ngeliat mas atau mbak2nya diam berdiri ga kerja apa2?"
Sontak aku menjawab, "Ga" (*Karena memang mereka semua sejak tadi sibuk kesana-kemari menyiapkan hidangan dan mengantarkannya ke pelanggan)
Dan aku kembali dicerca pertanyaan, "Lalu apa yang mau kamu pastiin? Pernah ga terfikir kalau mereka juga bahkan belum berbuka? Aku rasa, mereka juga berpuasa, dan mereka tiap hari selama satu bulan harus melayani begitu banyak orang berbuka dalam kondisi (yang SAMA seperti kita), lapar..."
Aku berfikir, dan tertegun.
Astaghfirullah...
Kemana sikap sabar dan qana'ah dalam diri ini???

Semoga Allah mengampuni... Aamiin...