Katakan padanya, "setiap tawanya disana adalah senyumku disini"
Maka berjanjilah, agar ia terus tertawa
Atau katakan padaku apa yang menghalangi tiap wajah bahagianya
Katakan padanya, "setiap tangisnya disana adalah lukaku disini"
Maka katakanlah, ia takkan pernah menangis
Atau katakan padaku apa yang dapat menggariskan bahagianya
Memandang wajah teduhnya, layaknya sebuah oase bagiku...
subur, terpencil, dan mengelilingi mata air...
damai, dekat, dan merangkul hidupku...
Mendengar suara letihnya, layaknya sebuah detak kecil di jantungku...
Tak ingin melihat gurat lelah di matanya,
Tak kuasa menyaksikan desah nafas yang semakin terasa berat...
Disini, disana, atau dimana pun,
Aku ada untuknya.. pasti ada untuknya, dan akan selalu ada untuknya...
Untuk setiap senyum, tangis, bahagia, dan dukanya, aku ada..
Katakan padanya,
Apapun yang terjadi di dunia ini kelak,
Aku, dengan hati, doa, dan semua kemampuanku,
kuberikan untuknya..
Saat semua terasa semakin berat, pegang tanganku
Saat semua terasa semakin kejam, bersandar di pundakku
Saat semua seolah pergi meninggalkan,datang padaku
Masih ada aku...
Saturday, September 1, 2012
Wednesday, August 29, 2012
Suatu hari dalam hidupku
Suatu hari dalam hidupku, aku bertemu dengannya.
Bukanlah sesuatu yang baru ketika ada keinginan untuk mengenal lebih jauh.
Tak ada yang terasa berbeda saat ada keinginan untuk menyapa lebih awal.
Namun bagaimana jika muncul kenyamanan saat bersamanya?
sedangkan sudah pasti ada semacam kegelisahan saat ia tak ada...
Terkadang kita lalai, memilah perasaan mana yang pantas dijaga.
Bukan karena kita sendiri tak yakin akan apa yang kita rasakan saat itu,
tapi lebih karena semuanya berubah seiring berjalannya waktu.
Waktu??
Tentu kita sudah cukup dewasa untuk tidak menyalahkan waktu.
Waktu tahu persis kemana dan bagaimana ia menempatkan dirinya.
Maka untuk ruang dan waktu yang seolah "menyetujui" setiap saatku bersamanya,terima kasih...
Suatu hari dalam hidupku, aku kecewa akan dirinya.
Bukanlah sesuatu yang baru saat ada keinginan untuk saling menjauh.
Namun bagaimana jika sudah tak ada lagi rindu bersarang di dadaku?
Tak mengerti bagaimana merangkuh perspektif pandangnya.
Terus bergulat dengan berbagai macam fikiran defensif yang memenuhi otakku.
Terus mempertahankan opini-opini kecil yang terasa makin berkuasa.
Memaksa pada sudut kondisi yang tak dapat ku hindari.
Bukan karena kembali tak yakin akan apa yang aku rasakan saat itu,
tapi lebih karena semuanya berubah seiring berjalannya waktu.
Waktu??
Tentu kita sudah semakin dewasa untuk tak kembali menyalahkan waktu.
Waktu tahu persis mengapa dan bagaimana ia menggunakan wewenangnya.
Maka untuk ruang dan waktu yang seolah "menghalangi" setiap saatku bersamanya,terima kasih...
Subscribe to:
Posts (Atom)
