"Carilah kesalahan pada dirimu sendiri, dan bukannya kepada orang lain; jangan membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain; jangan pula memuji muji diri sendiri di depan orang lain. Janganlah suka menjelek jelekan sifat sifat orang lain sehingga pada hari kiamat nanti anjing anjing neraka akan menjelek jelekkan kamu sehingga hancur berkeping keping” (HR. Bukhari)

Monday, August 13, 2012

Kemana sabar dan qana'ah ku??

Bulan Ramadhan, bulan penuh nikmah...
Bulan penuh pengampunan...
Bulan penuh berkah...
-------------------------------ooo--------------------------------
Bulan Ramadhan seringkali dijadikan sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat.
Waktu aktifitas sehari-hari yang sepakat untuk dikurangi, dengan harapan dapat menikmati suasana buka bersama orang-orang tersayang.

Disini, di salah satu restoran yang bisa dibilang cukup terkenal di Jakarta, sekumpulan anak muda  berkumpul untuk berbuka bersama.
Hadir disana 3 jam sebelum waktu berbuka, dianggap sebagai pengorbanan yang tidak kecil. Membuat mereka merasa berhak mendapatkan apa yang mereka inginkan disana.
Apa yang mereka inginkan?
Tentunya tempat, waktu, dan pelayanan yang "sempurna" dari pihak restoran.
Ya, itu memang hak mereka. Duduk, berbincang, tertawa, mengabadikan momen itu dengan mengambil beberapa foto atau bahkan membuat mini video, dan yang pasti menikmati hidangan berbuka puasa.
Ramainya pengunjung yang datang (bahkan lebih banyak lagi yang waiting list di luar), membuat pelayanan restoran berkurang.
Jumlah pelayan dan pengunjung yang datang seolah timpang.
Alhasil, suasana menjadi riuh dan tak senyaman hari-hari biasanya. Rasa lapar yang terasa membuat hampir semua orang tak sabar untuk segera menerima hidangan yang mereka pesan.
Salah 1 pengunjung bahkan berulang kali dengan nada tinggi mengingatkan pelayan akan pesanan mereka yang belum juga datang.
Semua ingin dilayani, menuntut "hak"nya.
Mungkin, aku juga salah satu dari mereka. Merasa diperlakukan tidak adil saat melihat meja lain telah mendapatkan hidangannya (padahal kami yang datang lebih awal).
Merasa pelayanan sangat tidak memuaskan.
Berpendapat bahwa "seharusnya" pihak restoran telah memikirkan cara alternatif untuk menghadapi kondisi seperti ini. Karena apa?
"Karena konsumen adalah raja..." *batinku...
Saat aku sudah merasa bahwa batas toleransi (yang aku buat sendiri) telah habis, maka sudah saatnya aku beranjak, dan menanyakan mengapa pesanan kami belum kunjung datang, sementara pengunjung di meja-meja sebelah tengah asik menyantap hidangan mereka.
Tapi, Allah mengingatkanku.. Allah mengingatkanku lewat seorang teman, yang berkata padaku," Mau kemana?"
"Nanya ke mas-nya kenapa ini minum aja belum datang juga", jawabku dengan nada agak kesal.
Lalu ia kembali bertanya, "Apa dari tadi kamu pernah ngeliat mas atau mbak2nya diam berdiri ga kerja apa2?"
Sontak aku menjawab, "Ga" (*Karena memang mereka semua sejak tadi sibuk kesana-kemari menyiapkan hidangan dan mengantarkannya ke pelanggan)
Dan aku kembali dicerca pertanyaan, "Lalu apa yang mau kamu pastiin? Pernah ga terfikir kalau mereka juga bahkan belum berbuka? Aku rasa, mereka juga berpuasa, dan mereka tiap hari selama satu bulan harus melayani begitu banyak orang berbuka dalam kondisi (yang SAMA seperti kita), lapar..."
Aku berfikir, dan tertegun.
Astaghfirullah...
Kemana sikap sabar dan qana'ah dalam diri ini???

Semoga Allah mengampuni... Aamiin...

No comments:

Post a Comment