Pangkalpinang, 30 Januari 2015
Tahun 2014 sudah berlalu, dengan segala cerita yang ada padanya, mengiring kita pada suatu interval waktu yang baru, 2015.
Ini bukan mengenai peruntungan di tahun 2015 berdasarkan shio, rasi bintang, ramalan tanggal lahir, dan sejenisnya, tapi bagaimana kembali menghisab diri sendiri, agar terus lebih baik.
Sedikit bercerita...
Saat ini, aku bukanlah lagi gadis perawan yang selalu berada dalam dekap dan manja ayah-ibu. Bukan lagi anak perempuan yang beranjak dewasa, yang seolah asik menikmati dunia-nya bersama teman-teman.
Melainkan seorang istri, yang mempunyai kewajiban terhadap suami.
Sebuah kehidupan baru sebagai seorang istri, menyimak setiap aktifitas suami begitu menyenangkan. Terkadang air mata perselisihan hinggap di atap kecil kami, Insya Allah membuat kami semakin memahami pribadi pasangan masing-masing. *Aamiin
Allah memberi kami berbagai macam cobaan di awal perjalanan rumah tangga ini, Alhamdulillah. Seberat apapun cobaan itu, tak ada yang dapat melebihi rasa syukur dan terima kasih kami atas kepercayaan-Nya, yang telah menjadikan janin dalam rahim ini.
Banyak sekali hikmah yang terselip di dalamnya. Bagaimana aku harus bertahan pada kondisi kehamilan Trimester I yang tidak biasa, dokter menyebutnya hyperemesis gravidarum (HEG). HEG sendiri merupakan mual dan muntah yang berlebihan saat mengandung, dan apabila tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan komplikasi bahkan kematian ibu dan janin. Gejalanya adalah mual dan muntah lebih dari 10 kali/hari. Bahkan yang aku alami jauh lebih daripada itu, dan akibatnya sempat harus dirawat di RS selama 1 minggu, dengan kondisi yang tidak jauh berubah setelahnya. Terapi obat-obatan, mulai dari dosis rendah sampai tinggi sudah diberikan, namun mungkin Allah memang masih ingin melihat perjuangan kami dalam menjaga janin ini.
Subhanallah...
Begitu besar pengorbanan yang harus dilakukan oleh seorang ibu untuk anaknya, bahkan sebelum otak, tulang, dan organ-organnya terbentuk.
Saat ini aku merasakannya!
Dalam diam kadang aku menangis tersedu, membayangkan bagaimana dulu ibu mengandung 6 buah hatinya. Bahkan setelah itu harus berjuang melahirkan, menyusui, membesarkan anak-anaknya. Terkadang aku tak bisa membayangkan apa yang ia rasakan, saat kami, anak-anaknya, pernah mengecewakan atau menyakiti hatinya walau hanya sekali. Astaghfirullah.
Rasa rindu akan kehadiran ibu pun bermunculan, memuncak, sampai membuat sesak di dada. Tapi adalah resiko bahwa saat ini aku jauh dari ibu, harus tetap kuat dan sabar. Berdo'a semoga Allah selalu melindungi ia disana.
Untuk semua ibu yang ada di dunia, "Kalian lah surga dunia dan akhirat"
No comments:
Post a Comment